You are currently browsing the category archive for the 'Uncategorized' category.
Well, you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but your so hot that i melted
I fell right through the cracks, and i’m tryin to get back
before the cool done run out i’ll be givin it my best test
and nothin’s gonna stop me but divine intervention
I reckon it’s again my turn to win some or learn some
I won’t hesitate no more,
no more, it cannot wait i’m yours
Well open up your mind and see like me
open up your plans and damn you’re free
look into your heart and you’ll find love love love
listen to the music at the moment maybe sing with me
Ah, la peaceful melody
It’s your god forsaken right to be loved loved loved loved Loved
So, i won’t hesitate no more,
no more, it cannot wait i’m sure
there’s no need to complicate our time is short
this is our fate, i’m yours
I’ve been spendin’ way too long checkin’ my tongue in the mirror
and bendin’ over backwards just to try to see it clearer
my breath fogged up the glass
and so I drew a new face and laughed
I guess what I’m a sayin’is there ain’t no better reason
to rid yourself of vanity and just go with the seasons
it’s what we aim to do
our name is our virtue
I won’t hesitate no more, no more
it cannot wait, i’m sure
(there’s no need to complicate
our time is short
it cannot wait, i’m yours 2x
no please don’t complicate, our time is short
this is our fate, im yours.
no please don’t hesitate no more, no more
it cannot wait, the sky is yours!)
well open up your mind and see like me
open up your plans and damn you’re free
look into your heart and you’ll find love love love love
listen to the music of the moment come and dance with me
Waktu menunjukkan pukul 7.30 ketika sekelompok muda-mudi berpakaian senada dengan sedikit tergesa-gesa memasuki Kampus B, Universitas X. Mereka membawa ‘pernak-pernik’ yang memang hanya bisa kita saksikan sekali setiap tahunnya. Selang waktu berjalan, teriakan-teriakan dari kubu yang lain pun mulai berkumandang. Teriakan-teriakan tersebut terkesan seperti orang sedang memaki. Sebagian esensinya adalah mengkritisi gerak-gerik muda-mudi yang datang berlarian, karena mereka dirasa lambat.

Kejadian seperti ini hampir dapat dipastikan muncul setiap tahun sekali. Mahasiswa baru adalah obyek yang menjadi sasaran utama dalam acara semacam itu. Dan sudah pasti, pelaku utamanya adalah para mahasiswa yang sudah terlebih dahulu masuk dan mengenyam pendidikan di kampus masing-masing (baca: senior). Sebenarnya, apakah OSKM/OSFAK/OSJUR itu, dan adakah esensi yang bisa didapat dari suatu kegiatan yang dari tahun ke tahun menjadi momok bagi setiap mahasiswa baru ?

Jika kita pernah melihat film-film dalam negeri yang berlatar belakang kampus di tahun ‘70 an, kita akan melihat beberapa adegan yang berisi perpeloncoan mahasiswa baru kala itu. Hal ini merupakan cerminan realitas yang ada di masa itu. Dan jika kita bandingkan dengan konsep ‘perpeloncoan’ yang ada di Airlangga saat ini, tentu saja kedua hal tersebut sangat jauh berbeda. Pada tahun ‘70 an, mahasiswa baru yang masuk mengalami proses perploncoan yang jauh lebih berat, dan beberapa kasus menimbulkan akibat yang fatal, yaitu kematian. Proses ini dijalankan hampir di seluruh kampus perguruan tinggi di Indonesia.
Sebenarnya apa tujuan OSKM/OSFAK/OSJUR? Inti dari kegiatan ini adalah pengenalan dunia kampus kepada mahasiswa baru. Mereka diperkenalkan dengan bagian-bagian kampus yang menempati posisi penting bagi kelangsungan studi mereka. Dalih untuk ‘mendandani’ mahasiwa baru dengan pernak-pernik aneh bertujuan untuk melatih sikap disiplin dan percaya diri mereka. Lalu apa tujuan kata-kata keras yang menjurus ke makian yang ditujukan kepada mahasiswa baru ? Hal tersebut untuk melatih sikap melawan mereka terhadap segala tindak kekerasan dan ketidakadilan yang ditujukan kepada mereka.
Dari pandangan holistik terhadap apa dan bagaimana OS tersebut, kita bisa menarik kesimpulan bahwa acara tersebut memiliki esensi yang sangat krusial. Tujuannya adalah untuk melatih mahasiswa agar berjiwa seperti layaknya seorang mahasiswa, yakni sebagai alat kontrol sosial dan oposisi pemerintah yang sebenarnya.
Namun apa yang terjadi dengan OS di lingkungan kampus IT….(tiiiit)? Dari tahun ke tahun, OS dijadikan sebagai suatu acara yang singkat, padat dan terkesan sekarang semi ilegal. jadi PR buat kita, baiknya gimana sistemnya?
Akhirnya, OSKM/OSFAK/OSJUR memang memiliki esensi penting dalam proses penerimaan baru di kampus. Tentu saja jika dikemas dengan tepat dan tidak menyeleweng dari tujuannya semula, maka akan meraup output seperti yang diidamkan. Dan adalah keinginan bersama, untuk dapat merangkum mahasiswa yang tangguh, cerdas, dan mampu memegang tongkat estafet perjuangan mahasiswa.

PROGRAM PESANTREN LIBURAN 2008
IA GAMAIS ITB
Tujuan
Program ini bertujuan agar peserta dapat
(1) mempelajari agama Islam secara lebih mendalam.
(2) mengenal lingkungan pendidikan islam tradisional dan masyarakat
sekitarnya.
(3) mengembangkan sikap khidmat untuk kepentingan ummat secara luas.
(4) mengembangkan sikap terbuka, hati lapang, dan pikiran tercerahkan.
(5) mengamalkan sebagian ilmu yang dipelajari di kampus untuk membantu
masyarakat.
Materi Belajar
Selama di persantren, perserta mempelajari prinsip dasar keislaman yang
terkandung dalam dasar-dasar sepuluh (mabadi’ul ‘asyaroh) dengan penekanan
dalam hal:
• Bahasa Arab
• Ushuluud-diin
• Ushuulul-Fiqh
• Tashawuf dan Akhlak
• Siirah Nabawiyah dan Tarikh Islam
Adapun untuk melengkapi wawasan peserta dalam menghadapi persoalan riil
masyarakat saat ini, maka akan diskusikan materi berikut :
• Filsafat dan Pemikiran Islam
• Keindonesiaan dan Keummatan
• Kepemimpinan dan Kewirausahaan
Materi Berkhidmat
Peserta akan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang meliputi dua
bidang :
• Teknologi tepat guna
• Teknologi informasi
Tempat
Pondok Pesantren Kulon Banon, Desa Kajen, Kab Pati, Jawa Tengah
Asuhan K.H. Nu’man Thohir (Gus Nu’man)
Pesantren tersebut berafiliasi kepada Nahdhatul Ulama (NU)
Pengajar
• Asaatidz Pondok Kulon Banon dan sekitarnya (lulusan univ2 Timur Tengah)
untuk ilmu-ilmu diniyah.
• Pengisi dari IA GAMAIS untuk materi di luar ilmu-ilmu diniyah.
Acara Kunjungan Khusus
Untuk menambah wawasan, peserta juga akan diajak untuk bersilaturahmi
kepada beberapa ulama besar yang berada di daerah Pati, yaitu :
• K.H Musthofa Bishri (Syuriah NU)
• K.H. Sahal Mahfuzh (Ketua Syuriah NU, Ketua Umum MUI)
• K.H. Muhammad Zuhri (ahli tashawwuf)
Rekreasi
Sebagai acara tambahan, pada akhir masa pesantren liburan ini, peserta
akan mengunjungi beberapa lokasi wisata yang ada di sekitar Yogyakarta.
Beberapa alternatif meliputi : Candi Borobudur dan Prambanan, Pantai
Parangtritis, Kotagede, dan sebagainya. Kegiatan ini dilakukan pada saat
perjalanan kembali ke Bandung.
Waktu
• Berangkat dari Bandung 19 Juni 2008
• Kegiatan resmi dimulai 21 Juni 2008
• Kegiatan berakhir 18 Juli 2008
• Sampai di Bandung 19 atau 20 Juli 2008
Peserta
Diharapkan peserta dari program pesantren liburan ini adalah
• Pengurus GAMAIS ITB
• Mahasiswa Penerima beasiswa IA GAMAIS ITB.
• Santri Asrama GAMAIS ITB
• Undangan, yaitu perwakilan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi lain.
Biaya
Peserta dibebaskan dari biaya transportasi, akomodasi, maupun konsumsi
selama program berlangsung. Peserta membawa sendiri perlengkapan hidup
sehari-hari (pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan kesehatan, dsb)
Contact Person
Bagi mahasiswa yang ingin mendapatkan keteranggan lebih lanjut dapat
menghubungi Bpk Munawar Kholil (Ketua Bidang Pembinaan Mahasiswa IA GAMAIS
ITB) di nomor 081320762385 atau (022) 2506691
atau bisa menghubungi Abdul Rochim (TI 06) : 081910201154
Pendaftaran paling lambat 15 Juni 2008
ikutan yuuk…
Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai
umur paling panjang didunia.
Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai
umur sepanjang
itu
seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat
berat pada
umurnya yang ke 40.
Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua,
paruhnya menjadi
panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh
dadanya. Sayapnya menjadi
sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan
tebal,sehingga sangat
menyulitkan
waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai
dua pilihan:
Menunggu kematian,
atau Mengalami suatu proses transformasi yang sangat
menyakitkan —
suatu proses
transformasi yang panjang selama 150 hari.
Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha
keras terbang
keatas puncak
gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang,
berhenti dan tinggal
disana selama
proses transformasi berlangsung.
Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada
batu karang sampai
paruh
tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam
beberapa lama menunggu
tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh
itu, ia harus
mencabut satu
persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru
sudah tumbuh, ia akan
mencabut
bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang
panjang dan menyakitkan.
Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah
tumbuh.
Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan
cakar baru, elang
tersebut mulai menjalani 30
tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!
Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus
melakukan suatu
keputusan
yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses
pembaharuan. Kita harus
berani
dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat,
meskipun kebiasaan
lama itu
adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan.
Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita
agar kita dapat
mulai
terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa
depan. Hanya bila
kita
bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk
belajar hal-hal yang
baru,
kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan kita yang
terpendam,
mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan
penuh
keyakinan.Halangan terbesar untuk
berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah
sang penguasa atas
diri anda.
Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan
semangat kita.
Anda adalah elang-elang itu.
Perubahan pasti terjadi.
Maka itu, kita harus berubah!
ok ya
MISKONSEPSI Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat. Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat. Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan deal kelompok dari mana kita berasal. Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungan- jawab bila perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti. Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan. Cinta membutuhkan proses, Bowman juga
menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan pertama. “Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks,” katanya.
CINTA BUTUH WAKTU Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu. Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru. Yang mungkin terjadi dalam fenomena “cinta pada pandangan pertama” adalah pasangan terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat-bahkan sampai tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda. Dalam kasus “cinta pada pandangan pertama”, banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang
benar-benar mencinta, mereka mencintai pasangan sebagai personalitas yang utuh.
CINTA BERBAGI, TIDAK MENGONTROL Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri. Bila kita berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan) , berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.
BUATLAH CINTA ITU KONSTRUKTIF Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta
impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.
CINTA TIDAK MELENYAPKAN SEMUA MASALAH Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit (panacea). Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang (berarti tidak benar-benar mencinta) cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem.
CINTA CENDERUNG KONSTAN Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita
patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikanny a, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding.
CINTA TIDAK BERTUMPU PADA DAYA TARIK FISIK Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan
bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan.
CINTA TIDAK BUTA Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin bisa diperbaiki.
CINTA MEMPERHATIKAN KELANJUTAN HUBUNGAN Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan.
CINTA BERANI MENYATAKAN HAL YANG TIDAK DISUKAI
Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata “tidak” saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu.
Amink
(Ingati bila Sunyi, Rindui bila Jauh, Fahami bila Keliru, Nasehati bila Lalai dan Maafkan bila Terluka. Alangkah Indahnya ukhuwah bila sgalanya karena Allah SWT)
membuat ketagihan, dont try it at home
Sebuah kata mutiara yang saya kutip dari buku “Warisan Tokoh-tokoh Muslim”. Lengkapnya adalah sebagai berikut:
“Waktu itu laksana pedang, jika Anda tidak mempergunakannya maka dia akan memenggal leher Anda sendiri (Ali bin Abi Thalib)”
Sadar atau tidak kita ini — termasuk saya juga
— sering bermain-main dengan waktu. Kalau dihitung dengan uang, barangkali sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kerugian yang kita derita.
Begitu berharganya waktu, sampai-sampai Umar bin Khatab pernah mengatakan bahwa ia tidak suka melihat orang yang berdiam diri tanpa melakukan sesuatu yang mendatangkan manfaat ukhrawi maupun duniawi.
Ada beberapa fenomena yang sering terjadi di masyarakat yang berhubungan dengan waktu.
1. Kurang memahami nilai waktu
Waktu adalah sesuatu yang termahal yang dimiliki oleh manusia, karena ia datang untuk tidak kembali lagi. Sehubungan dengan hal ini, syaikh Hasan Al-Bashri mengatakan,
“Wahai anak cucu Adam,kamu tak lebih dari tumpukan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, berlalu pula sebagian dirimu”
Akibat dari kurang memahami nilai waktu, seseorang akan kehilangan perhatian untuk menata dan mengatur waktu sesuai dengan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Hidup santai
Kebiasaan hidup nyantai dan berleha-leha adalah kurang baik ditinjau dari sisi efisiensi waktu. Hal ini akan menjebak seseorang untuk tidak menyelesaikan pekerjaan pada waktu ia bisa melakukannya.
Dia akan berkilah, “Biarlah pekerjaan ini saya kerjakan nanti saja, toh saya masih punya banyak waktu. Sekarang saya ingin santai dulu.”
3. Optimisme berlebihan
Sikap optimis adalah sangat bagus. Namun demikian optimis yang tanpa perhitungan justru akan merugikan diri sendiri.
Seringkali kita terlalu optimis bahwa kita bisa menyelesaikan suatu pekerjaan dalam tempo sekian jam atau sekian menit. Sementara itu kita sendiri justru jarang untuk mengkalkulasi kemampuan yang kita miliki serta waktu yang tersedia.
“Barang siapa mempercayai waktu ia pasti akan tertipu (Al Ahnaf bin Qais)”
Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama.
Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb … dsb … Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama.
Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
‘Kenapa anda membuat film ini?’ Tanyaku
‘Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.’
1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.
Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
Wallohu … Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh … Alloh …
Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya. ‘Tallaqi’ mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar … Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu?
Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke Kairo.
‘Saya akan membuat film ini eksotis, pak’ begitu kata saya ke producer.
Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.
Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.
Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : ‘Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh’. ada juga yang bilang ‘Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.’
Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng dan ‘menjual’. Karena itu kami menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren . Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap ‘Film’ adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api.
Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas ‘Kesucian Fahri’. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna.
Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih Ibu.
Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa dipungkiri ‘kedewasaannya’ tidak tampak. Alias belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.
Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya …
‘Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.’
Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.
Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin
mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai … Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini …
Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai …
Sabar … Sabar … Ikhlas … ikhlas!!!
begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan … cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam …
La haula wa kuwwata illa billahi …
Oleh : Hanung Bramantiyo

Komentar Terakhir